BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebudayaan, suatu istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga
kita. Istilah yang berasal dari bahasa sansekerta “buddhayah” yang berarti budi
atau akal. Sementara kebudayaan itu sendiri kurang lebih memiliki makna semua
hasil dari karya, rasa, dan cita-cita masyarakat.
Indonesia
adalah negeri yang sangat kaya, dengan 17.548 pulau yang membentang membuat
Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah ruah baik dari darat
maupun dari laut. Dengan jumlah pulau yang begitu banyak yang dipisahkan dengan
lautan yang begitu luas, tidak heran Indonesia juga kaya akan kebudayaan yang
begitu beraneka ragam dari budaya Aceh hingga budaya Papua.
Suku Jawa, sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dengan
jumlah mencapai hampir seratus juta, dan juga kebudayaanya yang telah lahir
selama berabad-abad, memiliki kebudayaan yang begitu beraneka ragam, dan pasti
membuat takjub orang yang melihatnya. dan budaya itu masih tetap lestari karena
diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dalam
makalah ini, kami akan membahas mengenai kebudayaan dalam masyarakat Jawa yang dikaji dalam 7 (tujuh) unsur
kebudayaan seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian dan
sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan,
dan religi.
B. TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan kami dalam penulisan makalah ini antara lain :
Untuk
mengetahui tentang Apa itu Suku Jawa, Bahasa yang di gunakan, Budaya Jawa,
Kepercayaan ( Agama ), Profesi, Stratifikasi sosial, dan Seni.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Suku Jawa
Suku Jawa
(Jawa ngoko: wong
Jawa, Jawa krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa
terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain
di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti suku Osing, orang
Samin, suku Bawean/Boyan, Naga, Nagaring, suku Tengger, dan lain-lain. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada
di negara Suriname, Amerika Tengah karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa
di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.
B.
Bahasa
Bahasa pergaulan hidup sehari-hari adalah bahasa Jawa. Dalam berbicara
menggunakan bahasa Jawa, harus memperhatikan dan membedakan tingkatan orang
yang diajak berbicara, berdasarkan umur dan status sosialnya. Dalam susunannya,
Bahasa Jawa ada dua macam.
1. Bahasa Jawa Ngoko, terdiri atas :
a)
Bahasa Jawa Ngoko Lugu atau Ngoko biasa.
b)
Bahasa Jawa Ngoko Andap, bahasa ini digunakan
untuk berbicara dengan orang-orang yang sudah dikenal secara akrab, orang yang
usianya lebih muda atau orang- orang yang status sosialnya lebih tinggi.
2. Bahasa Jawa Krama, terdiri atas :
a) Madya
Ngoko, biasanya dipakai dalam percakapan kesederhanaan di pedesaan.
b)
Krama Madya, bahasa ini dipakai untuk percakapan orang-orang di pedesaan.
c)
Madyantara, yaitu bahasa yang dipakai untuk
percakapan di kalangan priayi.
d)
Kramantara, bahasa yang dipakai dalam
pembicaraan antara orang tua atau lebih tinggi status sosialnya dengan orang
yang lebih muda. Bahasa ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.
e) Wredhakrama,
yaitu bahasa untuk percakapan antara orang tua kepada orang muda/ sesamanya.
f) Mudhakrama,
yaitu bahasa yang dipergunakan untuk percakapan antara orang muda terhadap
orang tua atau digunakan untuk percakapan dengan siapa saja.
g) Krama
Inggil, yaitu bahasa yang digunakan dalam percakapan di keraton antara
priyagung keraton dalam bercakap-cakap.
h) Krama
Desa, yaitu bahasa yang bukan bahasa halus, melainkan bahasa yang dipakai
orang-orang di pedesaan. Bahasa ini terdiri atas bahasa yang sudah diganti krama yang dikramakan
lagi.
C. Budaya Jawa
Budaya Jawa
adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya
di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis
besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY
dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan
keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan
dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa
Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatera dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia
yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati
di luar negeri adalah Wayang Kulit, Keris, Batik dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit. LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan
wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari AS
tahun 2011.Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura dan Selandia
Baru. Gamelan Jawa rutin digelar di AS-Eropa atas permintaan warga AS-Eropa.
Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu satunya karya
sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar
Arkeologi Asia Tenggara National University of
Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan,
candi, patung dan seni. Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya Krama.
D.
Kepercayaan ( Agama )
Orang Jawa
sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi ada juga yang
menganut agama Protestan dan Katolik. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di
antara masyarakat Jawa. Ada pula filsafat suku Jawa yang disebut sebagai
filsafat Kejawen. Kejawen berisikan tentang seni, budaya, tradisi,
ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti
spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Kejawen merupakan filsafat yang memperbolehkan bahkan
menganjurkan untuk memeluk agama. ada pula kaum Abangan yang nominal menganut islam namun dalam praktiknya masih
banyak terpengaruh animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha
yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan
menurut nilai-nilai Jawa dikarenakan memiliki filsafat kejawen yang dianggap sebagai pengontrol dan melindungi jatidirinya
sebagai Orang Jawa.
E.
Profesi
Mayoritas
masyarakat Jawa berprofesi sebagai petani. Sedangkan di perkotaan mereka
berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, karyawan, pedagang, usahawan, dan
lain-lain. Masyarakat Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, masyarakat
Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri terutama di negara
Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat
Arab, Taiwan, Amerika Serikat, dan Eropa. Orang Jawa juga banyak yang menjadi pengusaha Jawa terutama di Jateng, DIY dan Jatim.
F.
Stratifikasi sosial
Masyarakat Jawa
juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga
kelompok: kaum santri, abangan, dan priyayi. Menurutnya kaum santri
adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan
adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum
Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak
ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan.
Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang
luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.
J.
Seni
Masyarakat Jawa sangat kaya terhadap kesenian.
Kesenian-kesenian tersebut terdiri dari seni bangunan, seni tari, seni musik,
seni pertunjukan, dan seni kerajinan.
Seni bangunan yang dimaksud adalah arsitektur rumah adat. Untuk
rumah-rumah penduduk secara umum ada tiga bentuk. Yaitu rumah limasan, rumah
joglo, dan rumah serotong. Bentuk limasan adalah bentuk rumah yang paling
banyak dimiliki masyarakat Jawa.
Selain bangunan yang sangat beragam, tarian rakyat masyarakat Jawa juga
sangat beragam jenisnya. Tari dari kesenian Jawa Tengah contohnya adalah, tari
serimpi, tari bambang cakil, serta tari jacilan. Sedangkan tari dari kesenian
Jawa Timur contohnya adalah, tari ngremo, tajuban, tari kuda lumping, reog,
serta tari lengger.
Sedangkan dalam seni musik, masyarakat Jawa dikenal memiliki alat musik
yang disebut gamelan. Gamelan merupakan jenis alat musik pukul (perkusi) yang
terbuat dari besi, kuningan, atau perunggu. Seperangkat gamelan lengkap
biasanya terdiri dari : gambang, bonang, barang penerus, gender, slentem,
sarom, peking, kenong, kempul, dan gong. Selain itu, gamelan juga dilengkapi
dengan kendang, seruling, rebab, dan siter.
Dalam seni pertunjukan, masyarakat Jawa dikenal memiliki seni pertunjukan
yang indah, yaitu wayang. Wayang memiliki banyak jenis, seperti wayang kulit,
wayang golek, wayang orang, wayang klitik, dan wayang beber. Cerita yang
dibawakan kebanyakan merupakan cerita dari Mahabarata atau Ramayana.
Pertunjukan wayang diiringi oleh musik gamelan lengkap sindennya.
Selain seni bangunan, seni tari, seni musik, serta seni pertunjukan,
masyarakat Jawa juga dikenal memiliki seni kerajinan yang indah, diantaranya
adalah batik, ukiran, perak, dan tembikar. Batik merupakan kerajinan kain/
tekstil yang dibuat dengan cara dilukis menggunakan canting dan lilin malam
atau dicap. Corak batik sangat beragam yang juga ditentukan oleh tempat
pembuatannya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kebudayaan merupakan hasil kreasi manusia yang tidak dibentuk hanya dalam
waktu hitungan jari, baik itu jari tangan maupun kaki. Kebudayaan dibentuk dari
awal kehidupan manusia, sampai akhir kehidupan manusia. Oleh karena itu,
kebudayaan memang seharusnya dan selayaknya kita pertahankan dan lestarikan
keberadaannya. Disamping untuk menghormati segala yang telah diwariskan oleh
nenek moyang kita, kebudayaan merupakan hal yang amat berharga dan tidak
tergantikan.
Masyarakat Jawa merupakan satu dari sekian banyak masyarakat dari
berbagai suku di Indonesia. Masyarakat Jawa, yang dulu dikenal dengan batiknya,
serta berbagai adat istiadat serta kebiasaan yang unik, kini berganti dengan
masyarakat Jawa yang dikatakan “Gaul”. Lunturnya kebudayaan yang indah ini,
disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah globalisasi, modernisasi,
konsumerisme, serta turisme. Hal-hal tersebut saat ini sudah membunuh puluhan,
ratusan, bahkan ribuan kebudayaan Jawa yang unik dan diagung-agungkan oleh
bangsa lain.
Berdasarkan uraian di atas, kita sebagai remaja (bagi yang masih remaja
dan merasa remaja) harus berusaha sebisa dan sebaik mungkin menjaga kebudayaan
yang telah terbentuk. Karena pembentukan Kebudayaan membutuhkan waktu yang amat
sangat luar biasa lama sekali.
Dan saat ini, seperti yang kita semua telah sadari, kebudayaan daerah,
Jawa khususnya mulai luntur tergantikan oleh Kebudayaan Barat yang di
agung-agungkan oleh generasi muda. Padahal orang-orang Barat yang kita
"tiru" gayanya itu lebih menghargai budaya daerah asli Indonesia.
Karena mereka lebih menghargai originalitas suatu kebudayaan. Selain itu,
klaim-klaim dari negara tetangga atas kebudayaan kita juga membuktikan bahwa
kebudayaan yang kita miliki adalah salah satu kebudayaan paling luar biasa di
dunia.
B. Saran
Berdasarkan uraian di atas sudah seharusnya kita mulai bangga akan budaya
kita sendiri, dan melestarikannya dengan sebaik dan sebisa mungkin. Oleh karena
itu, "Selamatkan Budaya Sebelum Hilang Dimakan Zaman".
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa
http://pemulungelitd19kk.wordpress.com/2013/09/30/kebudayaan-masyarakat-jawa/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar