Sabtu, 11 April 2015

Makalah Manusia Sebagai Makhluk Individu & Makhluk Sosial


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kebudayaan, suatu istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah yang berasal dari bahasa sansekerta “buddhayah” yang berarti budi atau akal. Sementara kebudayaan itu sendiri kurang lebih memiliki makna semua hasil dari karya, rasa, dan cita-cita masyarakat.
Indonesia adalah negeri yang sangat kaya, dengan 17.548 pulau yang membentang membuat Indonesia memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah ruah baik dari darat maupun dari laut. Dengan jumlah pulau yang begitu banyak yang dipisahkan dengan lautan yang begitu luas, tidak heran Indonesia juga kaya akan kebudayaan yang begitu beraneka ragam dari budaya Aceh hingga budaya Papua.
Suku Jawa, sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai hampir seratus juta, dan juga kebudayaanya yang telah lahir selama berabad-abad, memiliki kebudayaan yang begitu beraneka ragam, dan pasti membuat takjub orang yang melihatnya. dan budaya itu masih tetap lestari karena diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai kebudayaan dalam masyarakat  Jawa yang dikaji dalam 7 (tujuh) unsur kebudayaan seperti peralatan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.

B.     TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan kami dalam penulisan makalah ini antara lain :
Untuk mengetahui tentang Apa itu Suku Jawa, Bahasa yang di gunakan, Budaya Jawa, Kepercayaan ( Agama ), Profesi, Stratifikasi sosial, dan Seni.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Suku Jawa
Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jawa, Jawa krama:  tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti suku Osing, orang Samin, suku Bawean/Boyan, Naga, Nagaring, suku Tengger, dan lain-lain. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Suriname, Amerika Tengah karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.

B.     Bahasa
Bahasa pergaulan hidup sehari-hari adalah bahasa Jawa. Dalam berbicara menggunakan bahasa Jawa, harus memperhatikan dan membedakan tingkatan orang yang diajak berbicara, berdasarkan umur dan status sosialnya. Dalam susunannya, Bahasa Jawa ada dua macam.
1.  Bahasa Jawa Ngoko, terdiri atas :
a)      Bahasa Jawa Ngoko Lugu atau Ngoko biasa.
b)      Bahasa Jawa Ngoko Andap, bahasa ini digunakan untuk berbicara dengan orang-orang yang sudah dikenal secara akrab, orang yang usianya lebih muda atau orang- orang yang status sosialnya lebih tinggi.
2.  Bahasa Jawa Krama, terdiri atas :
a)      Madya Ngoko, biasanya dipakai dalam percakapan kesederhanaan di pedesaan.
b)      Krama Madya, bahasa ini dipakai untuk  percakapan orang-orang di pedesaan.
c)      Madyantara, yaitu bahasa yang dipakai untuk percakapan di kalangan priayi.
d)     Kramantara, bahasa yang dipakai dalam pembicaraan antara orang tua atau lebih tinggi status sosialnya dengan orang yang lebih muda. Bahasa ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi.
e)      Wredhakrama, yaitu bahasa untuk percakapan antara orang tua kepada orang muda/ sesamanya.
f)       Mudhakrama, yaitu bahasa yang dipergunakan untuk percakapan antara orang muda terhadap orang tua atau digunakan untuk percakapan dengan siapa saja.
g)      Krama Inggil, yaitu bahasa yang digunakan dalam percakapan di keraton antara priyagung keraton dalam bercakap-cakap.
h)      Krama Desa, yaitu bahasa yang bukan bahasa halus, melainkan bahasa yang dipakai orang-orang di pedesaan. Bahasa ini terdiri atas  bahasa yang sudah diganti krama yang dikramakan lagi. 

C.    Budaya Jawa
Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatera dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah Wayang Kulit, Keris, Batik dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit. LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari AS tahun 2011.Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di AS, Singapura dan Selandia Baru. Gamelan Jawa rutin digelar di AS-Eropa atas permintaan warga AS-Eropa. Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni. Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya Krama.

D.    Kepercayaan ( Agama )
Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Tetapi ada juga yang menganut agama Protestan dan Katolik. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Ada pula filsafat suku Jawa yang disebut sebagai filsafat Kejawen. Kejawen berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Kejawen merupakan filsafat yang memperbolehkan bahkan menganjurkan untuk memeluk agama. ada pula kaum Abangan yang nominal menganut islam namun dalam praktiknya masih banyak terpengaruh animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa dikarenakan memiliki filsafat kejawen yang dianggap sebagai pengontrol dan melindungi jatidirinya sebagai Orang Jawa.

E.     Profesi
Mayoritas masyarakat Jawa berprofesi sebagai petani. Sedangkan di perkotaan mereka berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, karyawan, pedagang, usahawan, dan lain-lain. Masyarakat Jawa juga banyak yang bekerja di luar negeri, masyarakat Jawa mendominasi tenaga kerja Indonesia di luar negeri terutama di negara Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Taiwan, Amerika Serikat, dan Eropa. Orang Jawa juga banyak yang menjadi pengusaha Jawa terutama di Jateng, DIY dan Jatim.

F.     Stratifikasi sosial
Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan, dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

J. Seni
            Masyarakat Jawa sangat kaya terhadap kesenian. Kesenian-kesenian tersebut terdiri dari seni bangunan, seni tari, seni musik, seni pertunjukan, dan seni kerajinan.
Seni bangunan yang dimaksud adalah arsitektur rumah adat. Untuk rumah-rumah penduduk secara umum ada tiga bentuk. Yaitu rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Bentuk limasan adalah bentuk rumah yang paling banyak dimiliki masyarakat Jawa.
Selain bangunan yang sangat beragam, tarian rakyat masyarakat Jawa juga sangat beragam jenisnya. Tari dari kesenian Jawa Tengah contohnya adalah, tari serimpi, tari bambang cakil, serta tari jacilan. Sedangkan tari dari kesenian Jawa Timur contohnya adalah, tari ngremo, tajuban, tari kuda lumping, reog, serta tari lengger.
Sedangkan dalam seni musik, masyarakat Jawa dikenal memiliki alat musik yang disebut gamelan. Gamelan merupakan jenis alat musik pukul (perkusi) yang terbuat dari besi, kuningan, atau perunggu. Seperangkat gamelan lengkap biasanya terdiri dari : gambang, bonang, barang penerus, gender, slentem, sarom, peking, kenong, kempul, dan gong. Selain itu, gamelan juga dilengkapi dengan kendang, seruling, rebab, dan siter.
Dalam seni pertunjukan, masyarakat Jawa dikenal memiliki seni pertunjukan yang indah, yaitu wayang. Wayang memiliki banyak jenis, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang orang, wayang klitik, dan wayang beber. Cerita yang dibawakan kebanyakan merupakan cerita dari Mahabarata atau Ramayana. Pertunjukan wayang diiringi oleh musik gamelan lengkap sindennya.
Selain seni bangunan, seni tari, seni musik, serta seni pertunjukan, masyarakat Jawa juga dikenal memiliki seni kerajinan yang indah, diantaranya adalah batik, ukiran, perak, dan tembikar. Batik merupakan kerajinan kain/ tekstil yang dibuat dengan cara dilukis menggunakan canting dan lilin malam atau dicap. Corak batik sangat beragam yang juga ditentukan oleh tempat pembuatannya.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kebudayaan merupakan hasil kreasi manusia yang tidak dibentuk hanya dalam waktu hitungan jari, baik itu jari tangan maupun kaki. Kebudayaan dibentuk dari awal kehidupan manusia, sampai akhir kehidupan manusia. Oleh karena itu, kebudayaan memang seharusnya dan selayaknya kita pertahankan dan lestarikan keberadaannya. Disamping untuk menghormati segala yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita, kebudayaan merupakan hal yang amat berharga dan tidak tergantikan.
Masyarakat Jawa merupakan satu dari sekian banyak masyarakat dari berbagai suku di Indonesia. Masyarakat Jawa, yang dulu dikenal dengan batiknya, serta berbagai adat istiadat serta kebiasaan yang unik, kini berganti dengan masyarakat Jawa yang dikatakan “Gaul”. Lunturnya kebudayaan yang indah ini, disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah globalisasi, modernisasi, konsumerisme, serta turisme. Hal-hal tersebut saat ini sudah membunuh puluhan, ratusan, bahkan ribuan kebudayaan Jawa yang unik dan diagung-agungkan oleh bangsa lain.
Berdasarkan uraian di atas, kita sebagai remaja (bagi yang masih remaja dan merasa remaja) harus berusaha sebisa dan sebaik mungkin menjaga kebudayaan yang telah terbentuk. Karena pembentukan Kebudayaan membutuhkan waktu yang amat sangat luar biasa lama sekali.
Dan saat ini, seperti yang kita semua telah sadari, kebudayaan daerah, Jawa khususnya mulai luntur tergantikan oleh Kebudayaan Barat yang di agung-agungkan oleh generasi muda. Padahal orang-orang Barat yang kita "tiru" gayanya itu lebih menghargai budaya daerah asli Indonesia. Karena mereka lebih menghargai originalitas suatu kebudayaan. Selain itu, klaim-klaim dari negara tetangga atas kebudayaan kita juga membuktikan bahwa kebudayaan yang kita miliki adalah salah satu kebudayaan paling luar biasa di dunia.

B. Saran
Berdasarkan uraian di atas sudah seharusnya kita mulai bangga akan budaya kita sendiri, dan melestarikannya dengan sebaik dan sebisa mungkin. Oleh karena itu, "Selamatkan Budaya Sebelum Hilang Dimakan Zaman".

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa
http://pemulungelitd19kk.wordpress.com/2013/09/30/kebudayaan-masyarakat-jawa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Semoga Blog Ini Bermanfaat. Selamat Berkunjung Kembali.